Category ""
-
Tanah yang Tidak Pernah Kosong
Dari Rungan, membaca ulang negara, adat dan kuasa Sore itu, di tepian ladang kecil di wilayah Rungan, Kalimantan Tengah, seorang ibu tua berdiri diam memandangi tanah yang baru saja dibersihkan. Udara masih basah oleh sisa hujan siang, dan dari kejauhan terdengar suara burung yang perlahan kembali ke sarangnya. Ia tidak banyak bicara. Tangannya hanya menunjuk ke arah tanah itu. “Ini bukan tanah kosong,” katanya pelan. Kalimat itu sederhana. Namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari . . .
PLD Dayak: Ketika Pembangunan Kembali ke Tangan Masyarakat
Di tengah derasnya proyek pembangunan yang datang dari luar, masyarakat Dayak di Kalimantan pelan-pelan merumuskan sesuatu yang lebih mendasar: pembangunan yang dimulai dari cerita mereka sendiri. Bukan dari dokumen pemerintah, tetapi dari pengalaman hidup di antara hutan, sungai, tanah, dan leluhur. Inilah People-Led Development (PLD), pembangunan yang tidak lahir dari meja rapat, tetapi dari tubuh komunitas. Dalam worldview Dayak, pembangunan tidak pernah terpisah dari hubungan manusia dengan alam. Hutan adalah kerabat, sungai . . .
PETANI DI TENGAH BADAI: KRISIS IKLIM, IMPOR PANGAN, DAN ANCAMAN KELAPARAN
Petani adalah tulang punggung bangsa. Petani menanam padi, jagung, sayur, buah, kopi, dan kakao. Petani memberi makan keluarga Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Namun petani justru hidup dalam kerentanan di kampung-kampung. Krisis iklim mengubah musim dan pola tanam petani. Kebijakan impor mengubah harga dan psikologi pasar di desa. Kelaparan mengintai keluarga miskin pedesaan dan pinggiran kota. Petani berdiri di tengah badai yang datang dari banyak arah. Badai itu bukan hanya cuaca. Badai itu juga kebijakan, pasar, dan struktur . . .
Pandangan Masyarakat Dayak tentang Alam dan Dinamikanya Hingga Kini
Alam sebagai Rumah Bersama Di Kalimantan, cara pandang Dayak terhadap alam - hutan, sungai, tanah, langit - bukan sekadar ekologi, melainkan ontologi: alam adalah rumah kosmis tempat manusia, leluhur, dan Sang Pencipta saling berelasi. Di tengah krisis iklim dan erosi keanekaragaman hayati global, cara pandang ini relevan karena menempatkan alam sebagai subjek moral - bukan objek eksploitasi. Lintasan sejarah kolonialisme, konsesi kayu dan tambang, ekspansi sawit, serta proyek infrastruktur modern telah mengubah intensitas relasi . . .
Sidebar
Tanah yang Tidak Pernah Kosong


